Open Source Bisa Jadi Solusi Dunia Pendidikan, Begini Perannya

DENPASAR — Pemanfaatan aplikasi software database Open Source PostgreSQL dirasa penting bagi dunia pendidikan.

Kepala UPT TIK Universitas Negeri Jember Sudarko mengatakan dengan aplikasi tersebut dapat mengetahui elemen dasar yang ada di sekolah maupun di perguruan tinggi.

Sudarko mencontohkan di tingkat sekolah dari SD hingga SMA aplikasi ini dapat menginformasikan data pelajar, infrastruktur pendidikan hingga guru yang ada di sekolah tersebut. Dia mengatakan, manfaat lain penggunaan aplikasi open source tersebut pengguna bisa didorong untuk terlibat dalam pengembangan aplikasi yang ada saat ini.

“Namun masih ada lembaga pendidikan swasta yang lebih menggunakan aplikasi luar dengan sistem jual beli. Padahal dengan aplikasi open source ini semua didorong untuk bisa mengembangkan sendiri,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan Konferensi internasional PGConf Asia 2019 yang membahas tentang seluruh aspek software database Open Source PostgreSQL yang digelar di Denpasar, Bali, Senin (9/9/2019).

Sudarko menegaskan tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana melibatkan para ahli TI untuk bersama-sama menciptakan aplikasi data base sendiri dengan pemanfaatan aplikasi open source yang berkembang pesat saat ini.

Sudarko menilai, kebanyakan para lulusan dan ahli TI lebih memilih untuk bekerja sebagai security system di perusahaan-perusahaan swasta.

Dia menyampaikan, demi meminimalisir lulusan yang memiliki jiwa membangun sistem aplikasi dunia pendidikan, maka pihaknya membuat aturan bagaimana memanfaatkan mahasiswa dalam sebuah komunitas dan sebagai bentuk apresiasi mereka diberikan beasiswa oleh pihak kampus.

“Artinya masih banyak ahli yang bekerja berdasarkan profit oriented. Saya tidak tahu ini salah siapa, atau mungkin karena sistem kurikulum kita yang belum comprare untuk menghasilkan lulusan yang berjiwa wirausaha,” ujarnya.

Dirinya juga berharap ke depan, adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk mengakomodir para mahasiswa atau ahli IT untuk mengembangkan aplikasi sendiri, misalnya melalui sertifikasi khusus.

The Democratization Of Data Base Bruce Momjian mengatakan, optimis dengan aplikasi PostgreSQL berkembang dengan baik di asia khususnya Indonesia. Karena dia melihat sejak tahun 2010 peningkatan pengembangan posgrade cukup baik.

Dia berharap melalui kegiatan ini Indonesia bisa mandiri dalam mengembangkan aplikasi untuk menjadi negara yang maju dalam dunia teknologi.

Vice President Postgre Conference Asia 2019 Julyanto Sutandang mengatakan, menurut perusahaan riset AT Kearney sektor pendidikan Indonesia hanya mampu menghasilkan 278 insinyur TI dari setiap satu juta penduduk, dan angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencetak 1.834 insinyur TI dan India yang mencetak 1159 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk.

Dirinya mengatakan, riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan 5 kali lebih banyak insinyur TI dalam 10 hingga 15 tahun ke depan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital.

“Saya pikir ada yang salah dari sistem pendidikan di negara kita, di mana para lulusan kampus dicetak untuk mencari pekerjaan bukan menciptakan pekerjaan,” ulasnya.

Julyanto mengatakan, diperlukan pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing di Revolusi Industri 4.0. Pemaparan beragam materi di dalam konferensi PGConf.ASIA 2019 akan memberikan peningkatan wawasan dan keahlian profesional bagi para peserta.

Dia menegaskan, konferensi ini digelar sebagai bagian dari bentuk tanggung jawabnya dalam membangun solusi dan ekosistem berkelas enterprise di pasar tanah air berbasiskan software open source.

Selain itu, seperti kebanyakan teknologi yang baru hadir, PostgreSQL tidak serta merta diadopsi secara luas dan membutuhkan waktu agar bisa diterima di tengah masyarakat bisnis negara berkembang. Dia menyebut, perlu dibangun sebuah ekosistem bisnis yang lebih baik bagi PostgreSQL agar bisa digunakan pada pasar lebih luas dan besar.

“Karena ketidaksiapan komponen bisnis membuat laju pengadopsian PostgreSQL tidak secepat harapan,” ujarnya.

Julyanto menuturkan, seiring bertumbuhnya software open source di sektor bisnis, maka diharapkan juga meningkatkan, kebutuhan akan para ahli PostgreSQL. Perhelatan PGConf Asia 2019 di Indonesia, selain untuk melakukan interaksi antara hacker dan bisnis enterprise, diharapkan ekosistem PostgreSQL dan Open Source dapat bertumbuh di Indonesia.

“Dan yang tidak kalah penting adalah PGConf.ASIA 2019 dapat menguntungkan bisnis enterprise sebagai pasar dan akademisi yang menghasilkan sumber daya TI terbaik di tanah air,” tuturnya.

disadur dari Bisnis.com 

Tinggalkan Komentar Anda

komentar diterima

Author:

Super Administrator